27 Nov 2010

600.000 Perokok Pasif Tewas Tiap Tahun

Seseorang yang tidak merokok, tetapi berada di sekitar orang yang merokok dan mengisap asap rokok, atau disebut juga perokok pasif, akan ikut terkena dampak dari bahaya rokok. Menurut data, lebih dari 600.000  perokok pasif tiap tahunnya meninggal.

Dalam sebuah penelitian pertama yang melihat dampak kesehatan perokok pasif, para peneliti menemukan 40 persen anak-anak dan lebih dari 30 persen pria bukan perokok setiap harinya ikut menghirup asap rokok yang berasal dari rokok perokok aktif.

Data yang dikumpulkan, dari 192 negara itu menemukan bahwa tiap tahunnya 379.000 orang meninggal akibat penyakit jantung, 165.000 akibat penyakit pernapasan, 36.900 akibat asma, dan 21.400 meninggal akibat kanker paru. Apabila diakumulasi, angka tersebut mencapai 1 persen dari penyebab kematian secara global.

"Data tersebut membantu kita memahami dampak nyata dari tembakau. Kombinasi antara penyakit infeksi dan menjadi perokok pasif bisa berakibat mematikan," kata Armando Peruga, program manajer dari WHO Tobacco-Free Initiative yang melakukan penelitian ini.

Ia menjelaskan, WHO menaruh perhatian terhadap angka kematian pada anak-anak akibat infeksi pernapasan sebagai dampak dari asap rokok yang tiap tahunnya mencapai 165.000 korban tewas, terutama di Asia Tenggara dan Afrika.

Data WHO menyebutkan, negara yang penduduknya paling banyak terpapar asap rokok adalah Eropa dan Asia. Sementara itu, jumlah terendah ada di Amerika, Mediterania timur, dan Afrika.

Perempuan yang sering terpapar asap rokok menderita kerugian yang paling besar dengan jumlah kematian 281.000. Di banyak negara, 50 persen perempuan menjadi perokok pasif.
Sumber : Harian Kompas

Lindungi Otak dengan Kopi

Ternyata, kopi tidak selamanya buruk untuk tubuh. Penelitian mengenai dampak kopi bagi kesehatan sudah cukup banyak. Yang terbaru menyebutkan, kopi bisa melindungi otak Anda dari risiko kanker.

Manfaat kopi yang luar biasa itu terungkap setelah para peneliti mengikuti kesehatan 500.000 orang Eropa selama delapan tahun. Mereka yang minum satu setengah cangkir kopi sehari memiliki risiko terkena kanker otak 34 persen lebih rendah.

Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa kopi sebenarnya kaya akan antioksidan. Seperti diketahui, sudah banyak fakta-fakta yang menunjukkan manfaat antioksidan untuk pencegahan penyakit.

Meski hasil penelitian tersebut cukup membuat para pencinta kopi sedikit lega, tetapi perlu dicatat bahwa tipe kanker otak yang bisa dicegah oleh kopi terbilang langka.

Sebelumnya, hasil-hasil penelitian menunjukkan kopi punya manfaat pencegahan beberapa jenis penyakit, seperti diabetes tipe 2 dan Alzheimer. Manfaat kopi lainnya mungkin sudah sering Anda rasakan, yakni lebih bersemangat dan meningkatkan konsentrasi.
Sumber : Harian Kompas

Gamelan di Universitas Terkemuka AS

Hampir semua universitas terkemuka di Amerika Serikat  memiliki program studi gamelan Indonesia, sehingga tidak mengherankan banyak ahli musik tradisional ini di luar negeri, kata mantan Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar, Prof Dr I Wayan Rai S.

"Gamelan Bali yang ada di Amerika Serikat ada 15 jenis dan sekarang ini terus bertambah dari gemalan Jawa, Sunda dan lain-lain," kata I Wayan Rai S pada seminar Mabarung Gong Kebyar yang diselenggarakan ISI Solo, Jumat.

Gamelan berada di luar negeri sejak tahun 1800-an dibawa oleh para kolonial atau bangsa-bangsa barat yang pernah menjajah di Indonesia, sehingga tidak mengherankan jika sekarang telah ada di mana-mana, tambah Guru Besar Komposisi Musik ISI Solo Prof Dr R.Supanggah.

"Gamelan sekarang ini tidak hanya berkembang di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, tetapi juga Australia, Afrika dan bahkan sekarang Asia. Memang gamelan suatu unggulan yang berhasil keluar pagar Indonesia dan ini bisa diterima di kalangan para musisi pada umumnya," katanya.

Di Amerika Serikat, lanjutnya, sekarang ini ada sekitar 600 perangkat gamelan, sehingga tidak mengherankan kalau setiap universitas terkemuka di negara ini memiliki program studi gamelan Indonesia.

Sebenarnya melalui gamelan ini juga merupakan salah satu konsep perekat bangsa ini, karena berdasarkan data yang ada tahun 1870 berbagai musik di Nusantara termasuk di antaranya gamelan telah pentas berkolaborasi di Paris, katanya.

"Jadi seni sebagai alat pemersatu bangsa ini tidak hanya sekarang saja, sejak dulu sudah terjadi dan dilakukan oleh para pendahulu kita dan ini ada bukti-buktinya sampai sekarang," paparnya.

Pada tahun 1870 ada serombongan seniman yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara ini pentas bersama di Paris, dan waktu itu sedang terjadi adanya revolusi industri, katanya.

Menyinggung hasil karya musik sekarang yang jarang menjadi monumental, Supanggah mengatakan bahwa yang disentuh hanya pada seninya saja, sedangkan budayanya jarang disentuh, akibatnya hasil karya seni tersebut hanya enak dinikmati sementara tidak sampai rasa.
Bagaimana dengan di Indonesia?
Adakah, seperangkat saja, gamelan di Universitas termuka di negeri ini?
13 Nov 2010

Gila! McLaren SLR Berlapis 5 Kg Emas dan 600 Rubi

Mobil mahal ini dilapisi emas dan permata rubi! Sebagian orang yang memahami seni tentu akan bilang hebat! Namun, mereka yang cenderung melihat asas manfaat akan berujar, ”Wahh Gila!”

Itulah yang terjadi pada McLaren SLR 999 ini. Dia pernah dipajang, untuk kali pertama, pada Tuning World Bodensee, Mei lalu. Namun, kala itu banyak orang tidak memerhatikannya. Sekarang, begitu dipamerkan di Dortmund MY CAR Tuning, ia langsung saja menarik perhatian. Pasalnya, velg dan interior mobil ini, termasuk setir, dasbor, dan jok, sudah dilapisi emas. Tidak kurang 5 kg emas digunakan sebagai pelapis.

Zubehör & News, Jerman, memaparkan, pelapisan emas pada McLaren ini dikerjakan oleh desainer mobil dari Swiss, Ueli Anliker, yang berpengalaman memasang permata atau berlian pada mobil selama 35 tahun. Pada McLaren SLR ini, Ueli juga menambahkan 600 rubi dengan diameter terbesar 35 mm.

Para ahli asuransi memperkirakan, nilai mobil ini sekitar 5 juta franc Swiss atau 3,7 juta euro (Rp 41,5 miliar). Menurut Anlier, nilai tersebut belum termasuk upah kerja 30.000 jam untuk menangani proyek ini. Mobil akan dipamerkan mulai hari ini sampai 14 November di Dortmund, Jerman.
Sumber : Harian Kompas

Jangan Malu untuk Memulai "Nge-blog"

Pada masa awal kelahirannya, blog atau situs pribadi dianggap sebelah mata, bahkan cenderung dilecehkan. Sampai sekarang pun sikap nyinyir terhadap bloger tidak pernah hilang. Disebutlah bloger itu narsis yang buang-buang waktu percuma. Persis lahirnya sebuah revolusi, kehadiran awalnya diragukan.
Sekarang, orang yang melek internet tetapi belum nge-blog, istilah merujuk aktivitas dalam membuat dan mengisi blog, dianggap tertinggal zaman. Blog sudah menjadi gaya hidup, mulai dari anak sekolah dasar, selebriti, sampai menteri. Bahkan, 94 dari 96 suratkabar cetak terbaik di Amerika Serikat memiliki blog. Hanya empat surat kabar saja yang "jadul" alias terseret zaman karena tidak memiliki blog.
Jelaslah, di belahan dunia sana blog sudah masuk salah satu kriteria penting sebagai penentu berkualitas tidaknya sebuah surat kabar. Beberapa surat kabar cetak di Indonesia sudah memiliki kesadaran lebih dini dengan membuat blog sebagai tempat curhat para wartawannya atau tempat mengekspos kegiatan keseharian surat kabar itu, yang tidak mungkin termuat dalam surat kabar.
Di Eropa atau Amerika, surat kabar online pun memiliki blog sendiri-sendiri, plus blog pribadi wartawannya yang bisa diklik di jajaran navigasi global pada tampilan surat kabar online tersebut. Ada "cerita di balik berita" yang lebih bebas terungkap dalam blog, yang kadang justru lebih menarik daripada peristiwa itu sendiri.
Ada forum dialog intens yang hangat antara wartawan dan para pembaca. Ada keakraban di sana. Seluruh wartawan, editor, dan pemilik surat kabar bisa disapa serta ditanya tentang berbagai hal. Wartawan yang menulis berita tidak lagi asal lempar tulisan setelah itu tutup telinga: "terserah tulisanku mau dibaca atau tidak, pokoknya masa bodoh".
Hubungan antara koran yang diwakili wartawan dan para pembacanya menjadi berjarak. Wartawan kerap dicap sebagai "orang pintar" yang duduk di menara gading, yang sulit dan tidak bisa disapa pembaca. Akan berbeda persoalannya jika sebuah surat kabar memiliki blog sendiri. Suasana lebih akrab bisa terjalin karena dipersatukan minat yang sama. Wartawan yang biasa menulis rubrik khusus, seperti otomotif, teknologi informasi, dan politik, memiliki "basis massa" pembaca yang luar biasa besar.
Sayang, selama ini aliran informasi hanya satu arah sifatnya. Tidak ada dialog interaktif untuk menangkap umpan balik (feedback) pembacanya, yang kemungkinan ada persoalan baru lainnya yang muncul dari hasil dialog interaktif itu untuk bahan tulisan berikutnya. Bukankah dalam dunia media online ada adagium bahwa berita adalah percakapan itu sendiri?
Wartawan memang manusia supersibuk yang tidak punya waktu membalas sapaan pembacanya di blog. Membalas sapaan pembaca di blog berarti buang-buang waktu sehingga waktu untuk menulis tersita. Tentu saja wartawan tidak harus memelototi blog tiap hari. Kalau tidak punya waktu, barangkali cukup seminggu sekali, sebulan dua kali, atau boleh juga sebulan sekali. Sekadar "say hello" saja kepada pembacanya.
Maka, berkumpulnya para blogger dari berbagai penjuru Tanah Air di Blitz Megaplex Jakarta, 27 Oktober lalu, menjadi penting. Selain menunjukkan keberadaan para blogger, ada semangat memperekat komunitas blogger. Meski belum pernah bertemu secara fisik dan hanya bertutur sapa di dunia maya lewat media maya, toh pertemuan itu menjadi "kopi darat" pertama yang terbesar. Beberapa wartawan peliput acara yang kemudian diklaim sebagai "Hari Blogger Nasional" itu adalah bloger, karena kesadaran mereka untuk berada dalam satu komunitas yang sama, yang sudah terbiasa saling menyapa dalam dunia maya.
Jumlah 130.000 blogger Indonesia belum apa-apa dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sudah menyundul angka 230 juta jiwa. Namun, melihat antusias orang yang terus membuat blog di seluruh dunia, jumlah itu rasanya terlalu kecil. Tengok Wordpress, salah satu situs penyedia blog terdepan saat ini, di mana setiap harinya mencatat 50.000 pembuat blog baru. Anda? Jangan malu untuk memulai!
Sumber : Harian Kompas