Tampilkan postingan dengan label Corat - coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat - coret. Tampilkan semua postingan
2 Mei 2011

Windows Live Writer, Menulis Blog tanpa Koneksi Internet


Akhirnya, setelah vakum menulis selama kurang lebih 2 bulan, inilah tulisan pertama saya. Tapi ada yang beda dengan tulisan ini. Apakah itu??. Saya menulis artikel ini menggunakan Windows Live Writer. Sebuah sofware keluaran Microsoft yang memungkinkan kita untuk menulis artikel blog tanpa hrus tersambung dengan internet. Mungkin akan sangat berguna bagi kita, termasuk saya, yang tidak bisa menikmati layanan internet setiap waktu.
Bagaimana cara kerja Windows Live Writer ini?. Sangat sederhana. Bahkan bisa dikatakan hampir mirip dengan Microsoft Windows. Hanya saja dalam Windows Live Writer opsi untuk menyisipkan berbagai file, mulai dari hyperlink, gambar, album foto, tabel, peta, tag, dan video serta opsi untuk membahkan sebuah plug in. Lantas, bagaimana cara Windows Live Writer bisa connect dengan blog kita? Pada awal penginstallan, kita diminta untuk mengisikan data lengkap tentang blog kita. Termasuk alamat URL untuk blog kita. Setelah semua form lengkap diisi, kita bisa langsung menikmati menulis di Windows Live Writer untuk kemudian diterbitkan ketika kita online. Oh ya, untuk penerbitan artikelnya sendiri, disediakan opsi untuk menentukan kapan artikel kita diterbitkan. Sedangkan untuk pelabelan artikel tidak perlu khawatir. Karena Windows Live Writer juga bisa membaca label apa saja yang ada di blog anda.
Nah, bagaimana? Sangat membantu bukan. Apalagi bagi blogger yang koneksi internetnya terbatas seperti saya, yang hanya mengandalkan modem dial up.
18 Feb 2011

24

Hari ini, 18 Februari 2011. Tepat 24 tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku membuka mata. Untuk pertama kalinya juga aku menghirup udara. Karena di hari itulah aku dilahirkan ke dunia. 24 tahun bukanlah waktu yang singkat. Berliku-liku jalan sudah saya lewati. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu 24 tahun, fase dimana bagi semua orang, adalah fase untuk mencari kedewasaan. Kedewasaan yang oleh sebagian orang sering dibandingkan lurus dengan usia. Hal yang sebenarnya masih perlu diragukan. Banyak orang yang bertingkah kekanak-kanakan dikala usia mereka sudah diklaim dewasa, demikian juga sebaliknya. Yah, kedewasaan bukan diukur dari banyaknya usia tapi dari kedewasaan pikiran. Tetapi, lazimnya seseorang yang sudah berusia banyak akan diikuti oleh dewasanya pemikiran mereka, karena mereka telah melalui proses pendewasaan yang cukup panjang. Lalu, apakah usia 24 sudah bisa dikatakan dewasa? Bisa iya bisa juga tidak. Karena seperti yang sudah dibicarakan diatas, ukuran kedewasaan bukan dari usia tapi dari pemikiran. Kemudian muncul lagi sebuah pertanyaan, apa yang telah saya dapatkan dalam kurun 24 tahun ini? Jawabannya, banyak. Tapi menunjang proses pendewasaan atau tidak? tunggu dulu. Menilai diri sendiri memang sangat sulit, bahkan sesuatu hal yang sangat tidak mungkin. Jika kemudian muncul sebuah penilaian dari diri sendiri, bisa dipastikan penilaian itu akan bersifat subjektif. Tetapi untuk menilai pengalaman hidup yang menunjang proses pendewasaan adalah hal yang mudah untuk dilakukan bahkan secara tidak sengaja pun bisa. Bagaimana caranya? Tengok ke belakang. Jika saya menengok ke belakang, sudah banyak kejadian yang saya alami. Mulai dari pengalaman menjalin persahabatan, pertemanan, pertemuan, perpisahan, sesuatu yang menguras adrenalin dan tentu saja percintaan. Berbicara soal percintaan, bukan hal yang mudah untuk memahaminya. Sampai sekarang pun saya kesulitan untuk memahaminya meskipun sudah banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dari situ. Kegagalan masih kerap melanda. Tetapi itu sebenarnya bukanlah hal yang menyakitkan. Justru dari situlah proses pendewasaan kita muncul. Saya berpegang pada sebuah pepatah yang kemudian saya jadikan prinsip dalam hidup saya. Bukan hanya prinsip dalam percintaan tetapi juga dalam segala hal.
"Tidak penting berapa kali saya terjatuh, yang lebih penting adalah seberapa sering saya bangkit untuk melanjutkan kehidupan seperti sedia kala"
Bangkit dari jatuh, mungkin suatu hal yang sangat sulit sekali untuk dilakukan. Tapi dari situlah saya mendapatkan sebuah nilai dari proses pendewasaan. Sering kita mendengar banyak orang yang mengakhiri hidup mereka karena sebuah kegagalan. Entah kegagalan dalam pekerjaan, pendidikan atau percintaan. Saya pun tidak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga mereka lebih memilih mengakhiri semuanya ketimbang memulainya kembali dari awal. Yah mungkin hanya mereka dan Tuhan yang tahu.Tapi itu jelas sangat bertentangan dengan prinsip hidup saya.
Saya mempunyai sebuah analog tentang sebuah kehidupan. Saya menganalogkan sseorang pembalap. Sirkuit balap mungkin sama dengan jalan hidup kita. Adakalanya kita berjalan lurus. Adakalanya juga kita harus mengerem mendadak, berbelok ke kiri ke kanan dst. Seorang pembalap pasti mempunyai teknik dalam melibas tikungan yang disebut Racing Lane. Sebuah garis imajiner yang menggambarkan teknik seorang pembalap dalam melewati tikungan. Racing lane bukanlah sebuah garis yang sengaja dibuat untuk memandu seorang pembalap melainkan sebuah garis yang muncul dari intuisi pembalap tersebut. Racing lane diambil seorang pembalap untuk menjaga akselerasi mereka agar tidak terlalu lama dalam melewati tikungan. Inilah yang kemudian saya analogikan dalam kehidupan. Dalam melewati sebuah kehidupan yang berliku, kita pun harus mempunyai Racing lane yang menggambarkan teknik kita dalam melibas masalah dalam hidup kita. Kita harus selalu menjaga akselerasi kita dalam melewati rintangan agar kita tidak terlalu berlarut-larut dalam meratapi kegagalan. Layaknya seorang pembalap yang mengambil racing lane untuk berakselerasi setelah keluar dari tikungan, kita pun harus berakselerasi secepatnya untuk keluar dari masalah. Dalam hidup, kita sebut saja Life Lane. Sebuah teknik untuk menjaga akselerasi kita dalam melewati lika-liku kehidupan.
Itulah sekelumit kisah tentang saya dan kehidupan saya selama 24 tahun di dunia ini. Semoga kita, atau setidaknya saya, bisa mengambil pelajaran dari tulisan di atas.
Sebagai penutup, saya mengucapkan pada diri saya sendiri, Selamat Ulang Tahun yang ke 24. Semoga di usia yang semakin bertambah ini tingkat kedewasaan saya juga semakin bertambah. Amin..



10 Feb 2011

A.A. Navis "Sang Pencemooh"

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.

Kehidupan Pribadi
Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.
Sebelum dikebumikan, sejumlah tokoh, budayawan, seniman, pejabat, akademikus, dan masyarakat umum melayat ke rumah duka di Jalan Bengkuang Nomor 5, Padang. Di antaranya; Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah A Syafii Maarif, Gubernur Sumbar Zainal Bakar, mantan Menteri Agama Tarmizi Taher, dan mantan Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin, serta penyair Rusli Marzuki Saria.
Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal, Robohnya Surau Kami, terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah, (1955). Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.

Buah karya
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya, dan delapan antologi luar negeri, serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal adalah:
  • Surau Kami (1955)
  • Bianglala (1963)
  • Hujan Panas (1964)
  • Kemarau (1967)
  • Saraswati
  • Si Gadis dalam Sunyi (1970)
  • Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
  • Di Lintasan Mendung (1983)
  • Dialektika Minangkabau (editor, 1983)
  • Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
  • Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
  • Cerita Rakyat Sumbar (1994)
  • Jodoh (1998)
Sebagai seorang penulis, ia tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep, 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina, 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an, dan ada yang ditulis tahun 1950-an.
Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. "Tidak semua gagasan dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan kadang-kadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen," katanya dalam suatu diskusi di Jakarta.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? "Soalnya, senjata saya hanya menulis," katanya. Baginya, menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. "Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen," katanya seperti dikutip Kompas, Minggu, 7 Desember 1997.
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.

Pandangan-pandangan A.A. Navis
Ia menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi, orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. "Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi," katanya.
Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. "Sekarang sastra itu fungsinya apa?" tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Ia melihat, perkembangan sastra di Indonesia sedang macet. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, "semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor," katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah "tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua" (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah A.A. Navis "Sang Kepala Pencemooh".

Karya tulis
  • Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005)
  • Gerhana: novel (2004)
  • Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002)
  • Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 3 (2001)
  • Kabut Negeri si Dali: Kumpulan Cerpen (2001)
  • Dermaga Lima Sekoci (2000)
  • Jodoh: Kumpulan Cerpen (1999)
  • Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)
  • Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 2 (1998)
  • Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidik INS Kayutanam (1996)
  • Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994)
  • Surat dan Kenangan Haji (1994)
  • Cerita Rakyat dari Sumatra Barat (1994)
  • Hujan Panas dan Kabut Musim: Kumpulan Cerita Pendek (1990)
  • Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986)
  • Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984)
  • Di Lintasan Mendung (1983)
  • Dialektika Minangkabau (editor) (1983)
  • Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975)
  • Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970)
  • Kemarau (1967)
  • Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963)
  • Hudjan Panas (1963)
  • Robohnya Surau Kami (1955)

Sifat-sifat Manusia Indonesia

Mochtar Lubis menulis sebuah buku yang berjudul “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” yang kalau tidak salah ditulis tahun 70′an. Namun kalau ditelaah, setelah hampir 30 tahun, apakah sifat-sifat tersebut masih hinggap disebagian besar masyarakat Indonesia?  Satu-satunya sifat yang positif dari orang Indonesia, menurut Mochtar Lubis adalah sifatnya yang ’artistik’.
Inilah sifat-sifat manusia Indonesia yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban” 

1. Hipokritis alias munafik.
Berpura-pura, lain di muka - lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.

2. Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.  
“Bukan saya’, adalah kalimat yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya.

3. Berjiwa feodal.  
Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk juga membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dapat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan, dalam hubungan-hubungan organisasi kepegawaian (umpamanya jelas dicerminkan dalam susunan kepemimpinan organisasi-organisa si isteri pegawai-pegawai negeri dan angkatan bersenjata), dalam pencalonan isteri pembesar negeri dalam daftar pemilihan umum. Isteri Komandan, isteri menteri otomatis jadi ketua, bukan berdasar kecakapan dan bakat leadershipnya, atau pengetahuan dan pengalamannya atau perhatian dan pengabdiannya.

4. Masih percaya takhayul.
Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuataan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua. Kepercayaan serupa ini membawa manusia Indonesia jadi tukang bikin lambang. Kita percaya pada jimat dan jampe. Untuk mengusir hantu kita memasang sajen dan bunga di empat sudut halaman, dan untuk menghindarkan naas atau mengelakkan bala, kita membuat tujuh macam kembang di tengah simpang empat. Kita mengarang mantera. Dengan jimat dan mantera kita merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan kita.

5. Artistik. 
Karena sifatnya yang memasang roh, sukma, jiwa, tuah dan kekuasaan pada segala benda alam di sekelilingnya, maka manusia Indonesia dekat pada alam. Dia hidup lebih banyak dengan naluri, dengan perasaannya, dengan perasan-perasaan sensuilnya, dan semua ini mengembangkan daya artistik yang besar dalam dirinya yang dituangkan dalam segala rupa ciptaan artistik dan kerajinan yang sangat indah-indah, dan serbaneka macamnya, variasinyam warna-warninya.

6. Watak yang lemah. Karakter kurang kuat.
Manusia Indonesia kurang dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ’survive’ bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

7. Tidak hemat, dia bukan “economic animal”.
Malahan manusia Indonesia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau yang akan diterimanya, atau yang tidak akan pernah diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.

8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. 
Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, seperti orang Amerika membuat instant tea, atau dengan mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya.

9. Manusia Indonesia kini tukang menggerutu tetapi menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan dengan dia.

10. Cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.

11. Manusia Indonesia juga dapat dikatakan manusia sok. 
Kalau sudah berkuasa mudah mabuk berkuasa. Kalau kaya lalu mabuk harta, jadi rakus.

12. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru.
Kepribadian kita sudah terlalu lemah. Kita tiru kulit-kulit luar yang memesonakan kita. Banyak yang jadi koboi cengeng jika koboi-koboian lagi mode, jadi hipi cengeng jika sedang musim hipi.

Fenomena Jejaring Sosial

Mendengar kata jejaring sosial atau dalam bahasa kerennya social networking pikiran kita pasti akan langsung tertuju ke Facebook, Twitter dsb. Yah, memang itulah jejaring sosial yang sedang populer sekarang ini. Gak peduli pejabat tinggi, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga bahkan para pekerja kasar pun bisa dipastikan memiliki sebuah akun di jejaring sosial tersebut. Tentu tujuan mereka adalah untuk mencari teman sebanyak-banyaknya di dunia maya atau bahkan bisa dibawa ke dunia nyata. Tujuan tersebut sejalan dengan sejarah pendirian jejaring sosial tersebut yaitu untuk menjalin hubungan sosial antar sesama. Meskipun dalam perjalanannya bukan hanya hubungan sosial antar sesama tetapi juga hubungan bisnis, sarana promosi sebuah produk atau sebagai sarana untuk menyampaikan pendapat, sebagai sarana kampanye politik dan masih banyak lagi lainnya. Tapi sebagaimana yang kita ketahui, sebuah hal pasti akan memiliki dua sisi yang berbeda. Positif dan negatif seperti kepingan logam yang dua sisinya tidak akan pernah berpisah. Yah, hal inilah yang belakangan sering kita jumpai. Jejaring sosial sudah keluar dari kodratnya sebagai sarana menjalin hubungan sosial antar sesama. Karena beberapa hal penyalahgunaan jejaring sosial ini bermunculan dimana. Jejaring sosial sudah digunakan sebagai sarana kejahatan, sarana untuk saling menghujat, sebagai ajang olok-olokan yang terkadang berbau SARA. Masih ingatkah kita tentang isu bahwa pemerintah berencana menutup jejaring sosial Facebook di Indonesia? Karena penyalahgunaan itulah pemerintah merasa perlu untuk bertindak lebih jauh agar penyalahgunaan jejaring sosial ini tidak semakin berlarut-larut. Banyak yang bereaksi dengan rencana pemerintah itu. Termasuk juga para pengguna jejaring sosial yang benar-benar memanfaatkannya sebagai sarana menjalin hubungan sosial. Mereka merasa keberatan jika jejaring sosial yang sudah sedemikian besar manfaatnya harus ditutup. Kita tak akan pernah memungkiri, jejaring sosial hanyalah sebuah alat yang sangat bergantung kepada pemakainya. Tergantung kita akan membawa kemana jejaring sosial tersebut. Tapi alangkah baiknya jika semua berjalan sesuai porsinya. Dan akan jauh lebih baik lagi jika kita lebih bijak menggunakan kemajuan teknologi ini.
30 Jan 2011

Apakah Kamu Seorang "Pemberontak"??

Pemberontak, rebel.... what's came up in your head when hear this word?? Melawan orang tua? Berbicara seperti anak nakal? Atau mengganti dress-code mu mengikuti gaya band-band yang lagi booming di MTV?
Well, no matter what you do, esensi dari pemberontakan tidak akan pernah berubah. A real rebellion stays under your skin. Bukan dari dandanan, tato, piercing atau anorexic-look yang dibuat-buat.
There's two kind of rebel. Once you're a real rebel, kamu akan selalu jadi a rebel for most of your lifetime, tak akan bisa berubah coz that's who you are. It's in your blood. Kamu akan selalu berpikir untuk melawan kecenderungan-kecenderungan yang ada, kapan saja dimana saja. And  the second, when you’re a wannabe-rebel, pemberontak tanpa misi dan prinsip yang jelas, kamu hanya akan memandang sebuah pemberontakan dari sisi luarnya saja (baca:fashion). Dan a wannabe-rebel tidak akan pernah membuat sejarah atau melahirkan pemikiran baru yang lebih baik untuk generasinya. Kita orang timur memang seringkali bingung mengadaptasi culture barat yang sedemikian liberalnya. Dimana di sini masyarakat kita diikat oleh tatanan atau norma yang kadang nggak penting dan berlebihan. Masyarakat kita mencintai keseragaman dan kurang menghargai sosok-sosok idealis dan individualis. Menjadi seorang rebel memang susah untuk hidup di Indonesia, for real. Tapi disanalah letak tantangannya. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan karena masyarakat kita masih cenderung melihat sisi negative dari seorang pemberontak. Padahal menjadi seorang rebel bukan 100% salah. Tergantung mana yang kamu lawan. Misalnya, kamu benci melihat sinetron-sinetron Indonesia yang mewah, dangkal dan mudah ditebak. Lalu kamu bikin sebuah film documenter tentang bagaimana sinetron-sinetron tersebut mombodohi masyarakat kita yang mayoritas masih hidup di bawah garis kemiskinan. Itu sebuah pemberontakan yang pintar. Sebuah counter terhadap komersialitas dan penyeragaman yang berlebihan. A real rebel selalu berada di luar kecenderungan masyarakat dan itu bukanlah pilihan yang salah, selama kamu bisa bertahan dan mempertanggungjawabkan misi dari pemberontakanmu. Harus diingat, kecenderungan di masyarakat tidak selalu benar dan baik buat kita. Contohnya ketika tren emo menyerang. Remaja kota-kota besar bahkan remaja pedesaan beramai-ramai menutupi jidat mereka dengan rambut poninya dan bikin band-band emo dadakan. Alasannya biar keliatan cool dan diterima di pergaulan kota besar yang makin konsumtif. Hanya sebagian kecil dari remaja-remaja kita yang serius menyimak dan mengerti lirik-lirik band-band emo. Ironis! Padahal di negeri asalnya, band–band emo tersebut terbentuk karena mereka sering tersisih dalam pergaulan. Dan musik yang mereka tulis adalah penegas kalau mereka adalah orang-orang yang berada diluar kecenderungan/pergaulan. Di sini, oleh sebagian besar remaja masa kini malah dipakai sebagai senjata untuk keliatan ‘up to date’ dan ‘gaul’ (damn, I hate that word!!). Same thing happens to punkrock and ska. Misi pemberontakan ditinggalkan, fashionnya diobral habis-habisan. Mirip sebuah butik pakaian yang jual tampang sama dandanan.
Jika diumpamakan pemberontakan adalah struktur sebuah lagu, jenis suara gitar, drum dan suara teriakan/nyanyian vokalisnya adalah media penyampai pemberontakan. Sedangkan isi dari pemberontakan itu sendiri ada pada lirik. Karena lirik berasal dari pemikiran yang paling dalam, ada pesan yang ingin disampaikan. Banyak orang yang jago main musik, tempo drum hebat, teknik vocal diatas angin dan bergaya seperti rockstar yang mempunyai masalah kejiwaan. Tapi jarang banget band Indonesia, apalagi yang terkenal, punya lirik berontak yang sekaligus pintar. Ujung-ujungnya paling keras bisanya menghujat pemerintah tanpa ngasih solusi yang jelas. Buruh bangunan pun bisa bikin lirik seperti itu. Lirik sederhana gak bermutu yang katanya pengalaman hidup atau apalah. Jadi ya percuma saja kalau ada band yang merasa sudah menjadi pemberontak hanya karena memakai kaos Ramones, tattoo or Mohawk, dandan keren ala The Beatles atau dandan seram mirip The Kiss, distorsi maksimum dengan drum ngebeat tapi lirik nya masih standar khas Indonesia (lirik cinta yang dangkal dan klip yang harus ada model cantik dan ganteng lagi berantem).
Seorang rebel akan menemui kesulitan mensupport band-band seperti ini. Lagipula, kenapa harus nyerah sama standard2 yang dibikin sama generasi sebelum kita, apa kita tidak punya hak untuk punya taste terhadap standard yang berbeda. Sekarang try to think! Kecenderungan apa aja yang ada di masyarakat kita yang kamu rasa mengganggu tidurmu? Ignorance is the real enemy. Kamu kesal setiap kali melihat masyarakat dengan santainya membuang sampah plastik sembarangan? Jadilah seorang yang pro-environment, ajari dan pengaruhi orang-orang di sekitarmu. Kalau kamu nggak tega melihat hewan-hewan yang dibunuh untuk dimakan, jadilah seorang vegetarian dan daftar ke pro2.com. Jika kamu udah muak dengan berita-berita hangat seputar mafia-mafia atau para koruptor yang semakin kurang ajar, bikinlah sebuah buku tentang bahaya laten korupsi, dengan sedikit ilmu tentang moral dan etika, ajarkan pada generasi muda kita, agar korupsi tidak lagi menjadi budaya kita. Kalo kamu merasa menyesal membeli majalah yang dipenuhi wajah-wajah infotainment nggak penting, bikin dan cetaklah majalahmu sendiri. Bosan sama design kaos distro yang makin seragam dan sering ditemui di jalan-jalan, bikin clothing-line mu sendiri. Akan lebih baik jika kamu melakukan itu semua daripada menjadi seorang fasis yang kaku.
See, banyak hal-hal berontak yang bisa kamu lakukan di Indonesia tanpa harus merugikan orang lain. Dan malah bias menguntungkanmu jika kamu bias memanage ‘kenakalanmu’. Orang sukses kan tidak harus kaya dan terkenal.
Jadilah seorang counter-culture with a big heart, yang bertanggungjawab, respect terhadap keluarga terutama kedua orangtua, lingkungan dan bumi pertiwi. Jangan jadi seorang rebel bodoh yang hanya mengejar status sosial dan status fashion. Knowledge is king and that’s all you need to be a real modern rebel.
So, are you a real rebel or just a wannabe rebel?? Ask to your heart..
27 Jan 2011

Lostprophet - Always All Ways

I guess I'm trying to say I'm sorry,
But it always comes out wrong,
I think a part of you still loves me,
Even though we're moving on.

Always, all ways I wanted us to be,
Always, all ways you and me,
And I wait here on my own,
And I wait for you to see,
All the time I spend alone now won't comfort me,

Always all ways...

And I'm sorry for what happened,
But I want you there to see,
That I'm changing all my actions,
I don't wanna set you free.

Always, all ways I want to see you through
Always, all ways me and you
And I wait here on my own,
And I wait for you to see,
All the time I spend alone now won't comfort me.

'Cause I'm waiting for you,
Yeah, I'm waiting for you,
Give me answers, get me through,
I will wait...

Always, all ways I wanted us to be,
Always, all ways you and me,
And I wait here on my own,
And I wait for you to see,
All the time I spend alone now won't comfort me.

'Cause I'm waiting for you,
And I'll wait here for you,
Give me answers, give me through,
I will wait...

'Cause I'm waiting for you,
Yeah I'm waiting for you,
Give me answers, get me through,
I will wait...

Always, all ways
 
Download this song
16 Jan 2011

Indonesiaku sayang Indonesiaku malang

Siapa sih yang gak kenal sama negara kepulauan terbesar di dunia? Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia? Negara yang menjadi jujugan penjajah karena kekayaan rempah-rempahnya? Yah, Indonesia. Negara tercinta kita. Kita patut bersyukur karena dilahirkan di Negeri ini. Dengan segala kekayaan alamnya, kesuburannya dan kekayaan budayanya kita seharusnya menjadi bangsa yang sangat besar, bahkan mungkin menjadi negara adidaya. Tapi, kenapa tidak? Adakah yang salah dengan negara ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, mungkin sangat relatif karena faktor kemajuan suatu bangsa ditentukan dari berbagai sudut. Tapi semua pasti setuju kalau salah satu faktor itu adalah kualitas sumber daya manusianya. Bukan hanya kualitas skill tapi juga kualitas moral. Bagaimana tidak, sejak era orde baru sampai era reformasi ini, korupsi masih merajalela bak virus yang siap menginfeksi siapa saja. Dari sini kita bisa menilai kualitas skill rakyat Indonesia. Mereka sangat ahli dalam urusan menggelap-gelapkan. Mereka sangat ahli dalam urusan suap-menyuap, bukan skill yang positif pastinya. Tapi bagaimana dengan kualitas moral kita? Nihil. Moral sebagian rakyat Indonesia menunjukkan keterbelakangan. Tengok saja kasus yang saat ini sedang hangat-hangatnya. Siapa lagi kalau bukan Gayus Tambunan. Pegawai pajak golongan III A yang bisa kaya raya dan mempunyai rumah mewah. Bagaimana bisa?? Disinilah kualitas skill menujukkan perannya. Tapi sayang kualitas skill (yang negatif)diikuti kualitas moral yang bahkan lebih dari sekedar terbelakang. Bagaimana seorang tahanan yang seharusnya mendekam dalam penjara bisa pelesir ke Bali bahkan ke luar negeri?? Jauh sebelum itu yang patut dipertanyakan bagaimana seorang Gayus bisa membawa lari sebegitu banyak uang dari kantor pajaknya?? Parahnya lagi hal ini dilakukan oleh pegawai yang seharusnya menunjukkan kredibilitas tinggi karena digaji jauh di atas rata-rata gaji pegawai di negeri ini. Sungguh suatu mental yang supraterbelakang, lebih dari sekedar terbelakang. Dari sini mungkin timbul pertanyaan, bagaimana seorang tahanan bisa keluar jalan-jalan? sementara untuk keluar tahanan saja, bagi seorang tahanan, adalah hal yang sangat sulit dilakukan, apalagi keluar negeri, jika tanpa bantuan dari pihak luar dan dalam. Lagi-lagi kualitas moral yang patut dipertanyakan, tidak hanya pada seorang Gayus tapi kepada seluruh elemen yang seharusnya menjaga agar seorang tahanan tetap berada di dalam sel dan di dalam negeri. Tapi sebuah pepatah mengatakan uang adalah segalanya. Uang bisa membutakan mata hati. Uang bisa merontokkan sumpah setia untuk mengabdi kepada bangsa. Dari situ kita bisa membuat kesimpulan bahwa jika seseorang dalam tahanan yang mempunyai banyak uang pasti akan bisa pelesir ke Bali dan ke luar negeri seperti Gayus. Bukan tidak mungkin akan muncul Gayus-Gayus yang lain yang akan semakin memperparah keterbelakangan mental bangsa kita. Jadi untuk menjawab pertanyaan, bagaimana negara yang sebesar ini dan sekaya ini, menjadi bangsa yang miskin? Tanyalah diri kita sendiri. Bagaimanakah kualitas skill kita? Dan yang lebih penting lagi bagaimanakah kualitas moral kita? Berkualitaskah? Atau malah terbelakangkah?
Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bagi kita semua.
28 Nov 2010

Aku Cinta Kamu dalam 100 Bahasa

Udah bosen dengan kata-kata Aku Cinta Kamu, I Love You, Aishiteru, Ich Liebe Dich atau Wo Ai Ni? Atau mungkin udah terlalu sering kita mendengar atau bahkan mengucapkan kata-kata di atas untuk mengungkapkan perasaan kita ke pasangan? Biar gak bosen, atau pengen tampil beda, simak nih ungkapan cinta dalam 100 bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah dari seluruh dunia. Artinya semua sama, Aku Cinta Kamu.
Pilih salah satu atau salah dua atau salah semua deh, buat mengungkapkan cintamu ke pasangan. Dijamin lebih berkesan.

Aku Cinta Kamu dalam 100 Bahasa


Afrika :  Ek het jou life
Albanian :  Te dua
Arabic :  Ana behibak (Untuk cowok)
Arabic :  Ana behibek (Untuk cewek)
Armenian :  Yes kez sirumen
Bambara :  M’bi fe
Bangle :  Aamee tuma ke bhalobashi
Belarusian :  Ya tabe kahayu
Bisaya :  Nahigugma ako kanimo
Bulgarian :  Obicham te
Cambodian :  Soro lahn nhee ah
Chinese :  Ngo oiy ney a
Catalan :  T’estimo
Cheyenne :  Ne monotatse
Chicewa :  Ndimakukonda
Corsican :  Ti tengu caru (untuk cowok)
Creol :  Mi aime jou
Croatian :  Volim te
Czech :  Miluji te
Danish :  Jeg elsker dig
Dutch :  Ik hou van jou
English :  I love you
Esperanto :  Mi amas vin
Estonian :  Ma armastan sind
Ethiopian :  Afgreki
Faroese :  Eg elski teg
Farsi :  Doset daram
Filipino :  Mahal kita
Finnish :  Mina rakastan sinua
French :  Je t’aime, Je t’adore
Gaelic :  Ta gra agam ort
Georgian :  Mikvarhar
German :  Ich liebe dich
Greek :  S’agapo
Gujarati :  Hoo thunay prem karoo choo
Hiligaynon :  Palangga ko ikaw
Hawaiian :  Aloha wau ia oi
Hebrew :  Ani ohev et otha
Hiligaynon :  Guina higugma ko ikaw
Hindi :  Hum tumhe pyar karte hae
Hmong :  Kuv hlub koj
Hopi :  Nu’umi unangwa’ta
Hungarian :  Szeretlek
Icelandic :  Eg elska tig
Inuit :  Negligevapse
Irish :  Taim I’ ngra leat
Italian :  Ti amo
Japanese :  Aishiteru
Kannada :  Naanu ninna preetisuttene
Kapampangan :  Kaluguran daka
Kiswahili :  Nakupenda
Konkani :  Tu magel moga cho
Korean :  Sarang heyo
Latin :  Te amo
Latvian :  Es tevi miilu
Lebanese :  Bahibak
Lithuanian :  Tave myliu
Malay :  Saya cintakan mu
Malayalam :  Njam ninne premikunnu
Mandarin :  Wo ai ni
Marathi :  Me tula prem karto
Mohawk :  Kanbhik
Moroccan :  Ana moajaba bik
Nahuatl :  Ni mits neki
Navajo :  Ayor anosh’ni
Norwegian :  Jeg elsker deg
Pandacan :  Syota na kita
Pangasina :  Inaru taka
Papiamento :  Mi ta stimabo
Persian :  Doo-set daaram
Pig Latin  :  Lay ovlay ouyay
Polish :  Kocham ciebie
Portuguese :  Eu te amo
Romanian :  Te iubesc
Russian :  Ya tebya liubliu
Scot Gaelic :  Tha gra’dh agam ort
Serbian :  Volim te
Setswana :  Ke a go rata
Sindhi :  Maa tokhe pyar kendo ahyan
Sioux :  Techihhila
Slovak :  Lu’bim ta
Slovenian :  Ljubim te
Spanish :  Te quiero / Te amo
Swahili :  Ninapenda wewe
Swedish :  Jag alskar dig
Swiss :  Ich liebe di
Taiwanese :  Wag a ei li
Tahitian :  Ua here vau ia oe
Tamil :  Nan unnai kathalikaraen
Telugu :  Nenu ninnu premistunnanu
Thai :  Chan rak khun (untuk cowok)
Thai :  Phom rak khun (untuk cewek)
Turkish :  Seni seviyorum
Ukrainian :  Ya tebe kahayu
Urdu :  Mai aap say pyaar karta hoo
Vietnamese :  Anh ye^u em (untuk cewek)
Vietnamese :  Em ye^u anh (untuk cowok)
Welsh :  ‘Rwy’n dy garu
Yiddish :  Ikh hob dikh
Yoruba :  Mo ni fe